Jumat, 15 Juni 2012

Pemimpin Perusahaan

Tidak dapat dipungkiri seorang pemimpin selain mengendalikan perusahaan harus juga mampu mengendalikan dirinya sendiri dan berinteraksi dengan lingkungannya. Interaksi tersebut tidak hanya terbatas pada anggota dengan pimpinan, tetapi dalam arti luas interaksi tersebut melibatkan orang-orang dengan siapa organisasi melakukan transaksinya, yaitu dengan klien atau customer, supplier, peers, dan sebagainya. Interaksi tersebut tentu saja tidak akan berlangsung baik dan lancar jika tidak didasari oleh adanya penghargaan antara satu dengan yang lainnya.

Seberapa besar nilai-nilai pelayanan dan sikap positif mendasari para anggotanya akan terbaca dalam konteks hubungan yang terjalin. Dalam hal inilah pemimpin menjadi suatu model bagi para anggotanya. Bagaimana ia bersikap tehadap orang lain, tidak hanya sekedar sebagai pimpinan yang memberi perintah tetapi yang terpenting adalah kemampuannya untuk menjalin secara harmonis dengan tidak hanya mengandalkan rasio semata tetapi mampu menempatkan emosi pada tempat yang semestinya (Crosby, 1996).

Oleh karena itu kepemimpinan dalam perusahaan harus juga ditinjau dari perspektif psikologi dan spiritual. Sebenarnya orang-orang di barat juga sudah mulai membahas sisi spiritual dalam ilmu modern yang mereka kembangkan. Merekapun telah banyak melakukan penelitian-penelitian yang coba menggali sisi spiritual (Dadang Hawari : 2002). Diantara hasil penelitian tersebut adalah apa yang diperoleh oleh Ludenthal dan Star yang membuktikan bahwa penduduk yang religius resiko mengalami stres jauh lebih kecil daripada mereka yang tidak religius dalam kehidupan sehari-harinya. Comstock dkk. dalam penelitiannya juga menyimpulkan bahwa kegiatan keagamaan yang dilakukan secara teratur disertai dengan berdoa, ternyata dapat mengurangi resiko kematian akibat penyakir jantung koroner, emphysema (penggelembungan paru) dan lever sampai 50 persen.

Dalam penelitian lainnya yang dilakukan oleh Harrington, Juthani, Monakow, dan Goldstein yang mencoba mencari hubungan antara ilmu pengetahuan (neuroscientific) dengan dimensi spiritual. Walaupun belum dapat dibuktikan secara sempurna namun mereka dalam presentasinya yang berjudul Brain and Religion: Undigested Issues meyakini bahwa terdapat god spot dalam susunan saraf pusat manusia. Sebagai contoh, orang yang menderita kecemasan, kemudian diberi obat anti cemas, maka yang bersangkutan akan menjadi tenang. Namun orang yang sama bila memanjatkan doa dan dzikir ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa juga akan memperoleh ketenangan.

Pemimpin Yang Tangguh

Warren Bennis (Managing People is like Herding Cats, 1997) mensyaratkan beberapa karakteristik sebagai pemimpin perusahaan yang tangguh:

Pertama, pengenalan diri. Pemimpin yang tangguh pasti mampu mengenal kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Ia akan sering menggunakan jasa pihak lain untuk memberi masukan dan pemahaman atas kepribadiannya. Dengan bekal pemahaman atas dirinya, ia dapat bergerak maju memperbaiki kekurangan, dan melesat jauh bersama kelebihannya.

Kedua, terbuka terhadap umpan balik. Pemimpin yang efektif akan mengembangkan sumber-sumber umpan balik yang bervariasi dan berharga mengenai perilaku dan kinerja dirinya. Ia cenderung memiliki gaya yang terbuka. Dalam proses pembelajaran itu, ia akan menjadi sangat reflektif terhadap apa yang dikerjakannya, kendati itu dapat membuat dirinya rawan terhadap kritik.

Ketiga, pengambil resiko yang selalu ingin tahu. Kebanyakan pemimpin adalah petualang, pengambil risiko, dan selalu ingin tahu, bahkan sangat ingin tahu. Mereka tampak mampu mengambil resiko sangat besar dan membiasakan dirinya selalu terlibat dalam situasi berbahaya. Hampir selalu terjadi, para pemimpin besar mengalami kemunduran, krisis, atau kegagalan dalam kehidupan mereka.

Keempat, konsentrasi pada pekerjaan. Pemimpin yang tangguh adalah orang yang walau berkemampuan kecil dalam hubungan antarpribadi, tapi memiliki tingkat konsentrasi yang luar biasa. Matanya tajam fokus pada pekerjaan, perusahaan, sasaran-sasaran, dan misi-misinya.

Kelima, menyeimbangkan tradisi dengan perubahan. Alfred North Whitehead pernah mengatakan, pemimpin efektif harus memiliki keterikatan, baik dengan budaya maupun kebutuhan perbaikan dan perubahan.

Keenam, bertindak sebagai model dan mentor. Pemimpin yang tangguh akan bangga menjadi mentor, dan merasa menang ketika berhasil melahirkan pemimpin-pemimpin baru. Ia akan menghargai kemenangan itu dengan menjadikan seluruh periode kehidupan sebagai proses belajar, dan memanfaatkan semua pengalaman secara didaktik.

Selain dua rumusan karakteristik di atas, masih banyak lagi rumusan ciri dan karakteristik pemimpin perusahaan yang tangguh dan efektif. Enterprising Nation (1995) mensyaratkan untuk menjadi pemimpin perusahaan yang tangguh harus memiliki delapan kompetensi. Yaitu: people skills, strategic thinker, visionary, flexible and adaptable to change, self-management, team player, ability to solve complex problem and make decisions, dan ethical/high personal standards.

Sedangkan American Management Association (Eighteen Manager Competencies, 1998) menuliskan 18 kompetensi yang harus dimiliki manajer tangguh. Yaitu: efficiency orientation, proactivity, concern with impact, diagnostic use of concepts, use of unilateral power, developing others, spontaneity, accurate self-assessment, self-control, stamina and adaptability, perceptual objectivity, positive regard, managing group process, use of sosialized power, self-confidence, conceptualization, logical thought, dan use of oral presentation.

Tidak ada komentar: