Halaman

Amazon


Selasa, 30 April 2013

Negara Agraria - Kenangan Dan Impian

Hari ini penghujung bulan April 2013, sebentar lagi akan memasuki bulan ke lima yang dimulai dengan peringatan hari buruh sedunia. Pada awal Mei tersebut, akan diperingati bagaimana peranan buruh dan pekerja informal lainnya dalam memperjuangkan hak-hak kemanusiaannya diseluruh dunia. Hak tersebut berupa perjuangan yang sangat panjang dari mulai menyuarakan waktu kerja yang belasan jam menjadi delapan jam sehari sampai dengan perjuangan buruh dalam mendapatkan hak upah yang layak serta bentuk kesejahteraan lainnya yang semakin melebar. 

Negara Indonesia, pada waktu saya masih belajar sekolah dasar merupakan negara agraris yang berbasis pertanian. Negara ini dulu dikenal memiliki sawah dan ladang yang terhampar sangat luas dimana-mana. Komoditas pertanian sangat mudah didapat di pasar tradisional. Bahkan, buah-buahan lokal yang melimpah merupakan idola bagi anak seperti saya untuk setiap hari mengkonsumsinya. Penjaja buah, pada waktu itu masih memasarkan hasil buahnya ke sekolah dengan harga yang murah dan dapat dijangkau anak-anak sekolah dasar. Sepertinya, hasil pertanian dan komoditas lainnya merupakan konsumsi favorit dan mudah didapat disegala tempat. Bahkan beberapa lagu anak-anak yang terkenal waktu itu mengambil tema buah-buahan dan hasil pertanian. 

Sekarang, memasuki dekade pertama milenium dua puluh satu, buah-buahan lokal merupakan barang langka dan hanya terdapat pada gerai tertentu saja ditambah pula dengan harganya yang semakin tidak terjangkau. Hasil pertanian yang pokok seperti beras, gula dan lainnya juga berangsur menghilang dari sekedar makanan pokok menjadi makanan yang tidak murah. Malahan, akhir-akhir ini pemerintah menggalakkan kampanye konsumsi pokok selain nasi yang di klaim lebih bergizi. Intinya, kekuatan pertanian rakyat dan bangsa melemah secara nyata di tengah-tengah masyarakatnya sendiri.

Bagaimana ini bisa terjadi ? Keberpihakan negara terhadap para petani terasa sangat lemah, dengan banyaknya area pertanian yang berubah fungsi menjadi  lahan lain diluar pertanian, bahkan ada yang sudah menjadi perumahan dan konstruksi lainnya. Ketidak mampuan para petani dalam mempertahankan lahan pertaniannya menjadi dilema tersendiri karena semakin lama biaya pengolahan produksi pertanian menjadi lebih besar daripada pendapatan hasil panennya. Ketidak mampuan memperoleh pupuk, benih yang baik bahkan ketersediaan air yang semakin menipis semakin menjepit petani untuk dapat berbuat banyak menggeluti profesinya sebagai petani. Banyak petani di Indonesia merupakan penggarap lahan yang dimiliki oleh pemodal dan bandar yang menguasai lahan-lahan pertanian maupun perkebunan di seanteo nusantara ini. Pada gilirannya, petani sekarang malah kebanyakan menjadi buruh tani dibekas lahannya terdahulu. Betapa mengerikannya kehidupan seperti itu.

Dilandasi dengan membuat pertumbuhan ekonomi yang masif, pemerintah alih-alaih memberdayakan pertanian dan hasil hutannya, malahan mengeksploitasi hasil-hasil hutan secara masif untuk membiayai yang disebut pembangunan ekonomi. Pembiaran pembalakan hutan serta kemudahan pemerintah untuk memberikan konsesi eksploitasi sumber daya alam menjadikan kehidupan pertanian bangsa ini semakin terpuruk lebih dalam. Modernisasi alat dan perlengkapan produksi menjadikan masyarakat petani tidak berdaya untuk menjadi buruh di pabrik-pabrik yang dialokasikan pemerintah kepada pengusaha serakah dan kapitalis demi memberdayakan dan penopang kenaikan ekonomi. Jadi basis perekonomian negara secara drastis berubah dari yang berbasis agraria menjadi berbasis Industri demi kesejahteraan rakyatnya. 

Yang terjadi adalah, pelaku ekonomi berbasis agraria yang merupakan petani menjadi terpuruk kehidupannya dan tak berdaya menghadapi kerasnya arus industrialisasi yang menghasilkan buruh-buruh dari para petani. Ketika, industri tidak dapat lagi mampu menampung tenaga kerja untuk kelanjutan industrinya, maka berbondong-bondonglah para mantan petani menjadi tenaga kerja di luar negri di sektor informal dan diakomodasi oleh pemerintah. Seketika sesaat negara ini memberikan dukungan untuk memberdayakan tenaga kerja ke luar negri sebagai pekerja informal, maka seketika itulah sebetulnya sudah terjadi kegagalan dalam penggantian ekonomi berbasis agraria ke basis industri. Karena, biar bagaimanapun, industri memiliki keterbatasan untuk menampung jumlah tenaga kerja yang dapat mengoperasikan industrinya. Gelombang tenaga kerja ke luar negri sebagai pekerja informal semakin masif setelah industri mulai membuat efisiensi terhadap operasionalnya dengan penggantian mesin ataupun sistem yang mereduksi tenaga kerja sebagai operatornya. Akibatnya, tenaga kerja yang harus keluar negri juga berasal dari tenaga kerja industri.

Sebagai konsekwensi memasarkan Indonesia sebagai lokasi investor, tenaga kerja murah merupakan jargon yang dikeluarkan dan dijual untuk meraih investor luar. Akibatnya, dalam hal industrialisasi, tujuan kesejahteraan yang diharapkan akan terjadi setelah mengganti perkonomian berbasis agraria ke basis industri juga tidak tercapai atau bisa dibilang gagal. Kesejahteraan buruh yang merupakan pelaku yang berperan penting dalam industri tidak mendapat kesejahteraannya sama sekali. Untuk itulah, awal mei ini nasib buruh yang meperjuangkan kesejahteraanya kembali mengeluarkan suara nuraninya agar menjadi perhatian pemerintah.

Ada baiknya bangsa Indonesia memikirkan kembali ke perkonomian yang berbasis pertanian atau agraria. Masih ada kesempatan yang bisa dilakukan untuk hal ini. Kenangan lalu yang pahit dalam memproklamirkan industri dalam mengganti pertanian masih bisa kita impikan untuk kembali menjadi negara agraris.

-pHg
Posting Komentar