Amazon


Kamis, 18 April 2013

Bahan Bakar Minyak Dan Kelangsungan Perekonomian Bangsa

Krisis sumber daya alam dan ketersediaan pangan  semakin terasa di awal abad ini. Kecenderungan akan habisnya bahan bakar yang berasal dari fosil sudah mulai terasa dan lambat laun menekan perekonomian bangsa yang secara makro mengandalkan minyak bumi sebagai pendapatan utamanya. 

Sebagai negara penghasil minyak bumi yang besar, Indonesia mulai kewalahan untuk mencukupi ketersediaan bahan bakar minyak untuk aktifitas dan operasional perekonomian negaranya. Kelangkaan supplai bahan bakar di berbagai daerah sudah terasa sangat menggelisahkan dan cenderung mengkhawatirkan. Kegiatan ekonomi daerah yang mengalami kelangkaan secara langsung sudah mempengaruhi perlambatan kegiatan ekonomi di daerah tersebut. 

Bahan bakar minyak merupakan suatu hal yang bisa dikatakan vital di negara ini. Selain untuk menjalankan transportasi, juga dibutuhkan untuk menggerakkan sumber energi listrik yang sangat dibutuhkan buat produksi, rumah tangga dan bahkan hampir semua kebutuhan. Bayangkan, akibat dari kelangkaan bahan bakar tersebut akan sangat mempengaruhi roda perekonomian suatu daerah.

Jalur transportasi bisa terhenti hanya karena alat transportasi tidak mendapat bahan bakar, listrik akan padam karena kekurangan bahan bakar, lalu rumah tangga akan padam, menyebabkan kegiatan rumah tangga sangat terganggu oleh ketidak tersediaan listrik, jangan lupa para pelajar yang saat ini sedang menghadapi ujian pun akan ikut terkena akibat hal ini. Sungguh luar biasa akibat yang dihasilkan akibat kelangkaan bahan bakar minyak ini mempengaruhi daerah atau negara kita.

Pemanfaatan sumber energi alternatif saat ini berlangsung sangat lamban dan cenderung jalan di tempat. Industri untuk penerapan energi alternatif tidaklah banyak karena khawatir akan menghadapi kendala akan ketersediaan energi alternatif itu sendiri. Batu bara dan gas merupakan bahan bakar alternatif setelah minyak bumi belum berhasil mengatasi segala jawaban atas ini. Pemakaian alat-alat produksi yang menggunakan gas atau batubara tidak banyak berkembang, akibatnya hanya beberapa industri saja yang menggunakan alternatif sumber energi tersebut, itupun hanya sekedar dapat mengkorvensi energi tersebut ke dalam listrik. Lalu bagaimana dengan transportasi, listrik rumah tangga, industri dan lainnya bisa dapat menggunakan bahan alternatif ini? Jawabannya belum ada.

Beberapa daerah atau institusi atau perusahaan memang menggunakan energi alternatif ini hanya untuk sebagai pilot projek saja. Penggunaan hidro power, tenaga suraya ataupun tenaga angin bukanlah untuk kebutuhan primer, melainkan hanya sebagai mercusuar projek saja. Kesiapan kita untuk penggantian energi bahan bakar minyak sangatlah minim bahkan terkesan asal saja. Tidak ada kesungguhan yang benar dari pemangku kepentingan untuk mengantisipasi kelangkaan ini dan disuatu ketika akan menjadi bumerang kekacauan yang masif.

Sudah seharusnya ada target yang jelas dan juga penataan yang terstruktur agar ada persiapan untuk transisi penggunaan bahan bakar minyak kepada sumber energi lain, dan bukan sekedar wacana yang menjadi omong kosong saja. Bila memang benar prediksi sebagian ahli bahwa bahan bakar minyak akan habis dan kering sekitar tahun 2050, lalu bagaimana yang akan terjadi sepuluh tahun sebelumnya atau sesudahnya. Pastilah keheboan besar akan melanda, karena akan banyak sekali industri yang tidak siap akan menjadi vakum karena bukan hanya kelangkaan yang terjadi tetapi karena ketersediaan yang tidak ada. 

Mampukah gas alam dan batu bara siap menggantikan bahan bakar minyak untuk kelangsungan perekonomian bangsa ini pada dua puluh tahun kedepan,,,?


-pHg-
-Link-


Posting Komentar